Cara Menghitung HPP dan Margin Obat di Apotek (Lengkap dengan Contoh)
Pelajari cara menghitung HPP obat per satuan, menentukan harga jual dengan markup atau target margin, dan kesalahan umum yang membuat keuntungan apotek menipis.
Admin
Tim PharmaSync
Poin Kunci & Intisari Artikel
- HPP dihitung dari harga beli setelah diskon, lalu dibagi ke satuan jual terkecil.
- Markup 25% dari HPP setara dengan margin 20% dari harga jual; jangan sampai tertukar.
- Perbarui harga modal setiap kali harga beli dari PBF berubah.
Daftar Isi Artikel
Apa Itu HPP dan Margin di Apotek?
HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah biaya untuk mendapatkan obat yang Anda jual, yaitu harga beli dari PBF setelah diskon dan ditambah pajak yang tidak dapat dikreditkan. Margin adalah selisih antara harga jual dan HPP.
Banyak apotek merasa omzetnya besar, tetapi keuntungannya kecil. Penyebabnya sering kali karena harga jual ditetapkan tanpa menghitung HPP per satuan jual dengan benar.
Cara Menghitung HPP per Satuan
Contoh: apotek membeli 1 box obat berisi 10 strip × 10 tablet seharga Rp100.000 dengan diskon PBF 5%.
- Harga setelah diskon: Rp100.000 − 5% = Rp95.000 per box.
- HPP per strip: Rp95.000 ÷ 10 = Rp9.500.
- HPP per tablet: Rp95.000 ÷ 100 = Rp950.
Jika apotek tidak dapat mengkreditkan PPN pembelian, tambahkan PPN ke dalam HPP. Konsultasikan perlakuan pajak dengan konsultan pajak Anda karena kondisi tiap apotek bisa berbeda.
Menentukan Harga Jual dan Margin
Ada dua cara umum menghitung harga jual:
- Markup dari HPP: harga jual = HPP × (1 + persentase markup). Dengan markup 25%, harga per strip = Rp9.500 × 1,25 = Rp11.875.
- Target margin: harga jual = HPP ÷ (1 − persentase margin). Dengan target margin 20%, harga per strip = Rp9.500 ÷ 0,8 = Rp11.875.
Perhatikan bahwa markup 25% setara dengan margin 20%. Banyak pemilik apotek tertukar antara keduanya sehingga keuntungan yang didapat lebih kecil dari perkiraan.
Untuk obat yang harganya diatur (misalnya obat dengan HET), harga jual tidak boleh melebihi ketentuan yang berlaku.
Kesalahan Umum dalam Menghitung Margin
- Tidak memperbarui harga modal ketika harga beli dari PBF naik.
- Salah konversi satuan, misalnya HPP per box dipakai sebagai acuan harga per strip.
- Mengabaikan obat kedaluwarsa dan rusak yang sebenarnya menggerus margin.
- Menyamakan markup dengan margin, seperti dijelaskan di atas.
Mengelola Harga Modal dan Harga Jual di Aplikasi
Di PharmaSync, setiap obat menyimpan harga modal dan harga jual, dan Anda dapat mengatur beberapa satuan jual beserta konversinya. Laporan penjualan menampilkan omzet dan obat terlaris, sementara laporan arus kas mencatat uang masuk dari penjualan dan uang keluar untuk pembelian. Dengan harga modal dan harga jual yang tersimpan rapi, Anda bisa cepat memeriksa obat mana yang marginnya terlalu tipis.
Ditulis Oleh
Admin
Tim PharmaSync
Tim PharmaSync menulis panduan praktis seputar pengelolaan apotek, stok obat, kasir, dan administrasi pembelian.